Berita

Lindungi Peternak Kecil, Dishanpan Jateng Dorong Karanganyar Segera Bentuk BUMP

Karanganyar – Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pada Senin (4/10) dalam rangka rencana pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) lingkup peternak ayam petelur yang berada di Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar. FGD yang bertempat di Aula Kantor Desa Sedayu dihadiri oleh Kelompok Ternak Mergo Seneng Desa Sedayu dan Kelompok Ternak Pinsar Desa Ngunut. Tidak ketinggalan dalam agenda tersebut turut hadir Staf Khusus Gubernur Jawa Tengah, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Karanganyar, serta Kepala Desa Sedayu.

Kegiatan yang bersinergi dengan Sekretariat Nasional Badan Usaha Milik Petani (Seknas BUMP) Indonesia tersebut merupakan upaya pemberdayaan kepada peternak kecil untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, menghasilkan produk ternak yang sehat, serta bermanfaat bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Sebelum agenda FGD diselenggarakan, Kelompok Ternak Mergo Seneng Desa Sedayu dan Kelompok Ternak Pinsar Desa Ngunut telah mendapatkan bantuan subsidi komoditas jagung dengan kualitas grade A sebagai bahan baku utama pakan ternak dari Dishanpan Jawa Tengah bersama Seknas BUMP Indonesia.

Gejolak harga jagung yang tidak terbendung dalam tiga bulan terakhir berbanding terbalik dengan harga telur yang menurun drastis diangka Rp.15.000/kg. Maka dari itu Dishanpan Jawa Tengah bersama Seknas BUMP Indonesia merespons cepat dengan memfasilitasi bantuan subsidi jagung yang kemudian salah satu rencana tindak lanjutnya yaitu FGD yang diselenggarakan pada hari ini. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Seknas BUMP Indonesia juga telah melakukan pra-asessment terhadap para peternak sebagai bekal dalam pelaksanaan FGD.

Ketua Seknas BUMP Indonesia, Sugeng Edi Waluyo menjelaskan bahwa selama ini peternak kecil yang memiliki ternak tidak lebih dari 10.000 ekor ayam selalu diposisikan sebagai objek yang tidak berdaya dalam menghadapi fluktuasi harga telur di lapangan. Disisi lain, peternak kecil selalu ketergantungan dengan sarana produksi terutama pakan oleh pabrik penjual pakan dengan harga yang kurang ekonomis. Untuk itu, kelompok ternak sebagai kelembagaan peternak yang selama ini sifatnya masih dalam tahap pemberdayaan perlu ditransformasikan menjadi kelembagaan ekonomi peternak yang juga bergerak dalam segi ekonomi.

“Kelembagaan yang dimiliki petani peternak perlu optimalisasikan menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMP) sebagai kelembagaan berbadan hukum yang dibentuk oleh, dari, dan untuk petani peternak mensinergikan kegiatan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat tani ternak dijalankan secara korporasi berorientasi keuntungan untuk mendorong kemandirian petani peternak. Proses pembentukan BUMP memperhatikan dasar hukum UU. No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang tujuannya jelas untuk melindungi kegagalan panen, risiko harga serta penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan,” jelas Edi.

Divisi Unggas Seknas BUMP Indonesia, Sugeng Nugroho memaparkan rencana konsep pembinaan BUMP dan action plan yang dilakukan dalam penguatan usaha peternak kecil di Jumantono. Dalam paparannya, Sugeng mengatakan bahwa untuk dapat mencapai stabilisasi budidaya, produksi, dan produk yang sehat perlu manajemen pakan, pemeliharaan, dan kesehatan agar tercipta nilai jual tinggi dengan pasar yang sesuai. Selain itu, langkah lanjutan yang dilakukan dapat membuat komunal cluster peternakan yang meliputi pembinaan peternak yang sudah ada dan potensial, peningkatkan minat pemuda desa untuk beternak, serta mengurangi pengangguran.

“Permasalahan dasar yang dialami oleh peternak ayam petelur itu tidak jauh-jauh dari pakan, maka perlunya kemandirian pakan sejak dini. Konsep yang ingin kita bangun adalah efisiensi dan kesehatan. Dimana dalam produksi 5000 ekor ayam oleh peternak kecil asumsi kita mendapatkan efisiensi biaya sekitar 12 juta. Disisi kesehatan, para peternak mampu menciptakan telur yang memiliki kandungan omega-3 tinggi dan bebas residu antibiotik. Hal tersebut juga sebagai upaya dalam meningkatkan harga telur dan mengurangi stunting. Untuk itu, peternak ayam petelur perlu membangun ekonomi gotong royong yang sehat, kuat, berkualitas, dan efisien melalui BUMP,” paparnya.

Staf Khusus Gubernur Jawa Tengah, Warsito Ellwein yang menyempatkan hadir dalam FGD sangat mengapresiasi grand desain Badan Usaha Milik Petani (BUMP) yang akan diterapkan di Kabupaten Karanganyar bersama kelompok ternak ayam petelur. Warsito mengatakan bahwa saat ini masyarakat mulai memperhatikan asupan gizi makanannya dari segi kesehatan, tidak hanya bertumpu asal perut kenyang. Harganya tentu berbeda, maka peternak kecil yang bergabung dalam BUMP nantinya harus bisa saling gotong royong agar dapat terealisasi seoptimal mungkin.

“Ini cara berpikir yang tidak biasa. Sebagai peternak kecil, kita tidak mungkin bisa bersaing dengan peternak besar, maka kita perlu cari jalan sendiri. BUMP ini dapat dikatakan kumpulan peternak-peternak kecil maka keuntungan yang didapatkan juga bersama bukan pribadi. BUMP merupakan satu wadah bersama-sama agar memiliki kekuatan atau bergaining position. Perlu diingat di dalam BUMP, peternak kecil menjadi subjek bukan lagi objek. Artinya harus bisa mandiri dan aktif karena yang mengetahui betul kondisi ialah bapak dan ibu peternak. Jadikan BUMP sebuah sistem yang menjawab berbagai masalah masing-masing wilayah,” tegas Warsito.

Menanggapi FGD tersebut Ketua Kelompok Ternak Mergo Seneng Desa Sedayu, Sriyono Budi Waluyo mengatakan bahwa dirinya dan kelompok sangat senang dan setuju dengan rencana pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Budi menambahkan bahwa kelompoknya perlu diberikan pengarahan yang sistematis dari nol agar harapan peternak kecil untuk meningkatkan pendapatannya dapat tercapai. Budi juga mengatakan selama ini para peternak yang menggunakan bahan pakan konsentrat jadi memang tidak mungkin akan untung. Adanya inovasi ini diharapkan dapat menjadi jawaban dari keresahan yang dialami oleh para peternak.

“Setuju dan sangat senang sekali dengan hal ini. Namun tentunya harus dimulai dari 0. Mohon kami diberikan pengarahan step by stepnya. Selama ini jika memakai konsentrat jadi, peternak tidak mungkin mendapatkan keuntungan. Jadi memang pembuatan pakan yang dibuat sendiri dengan harga rendah kemungkinan dapat menjadi solusi bersama permasalahan kita selama ini. Apalagi jika memang biaya pakan yang semula Rp.6.800/kg dapat ditekan seminimal mungkin menjadi Rp5.700/kg seperti pengalaman Pak Heru dengan kualitas tertentu pastinya akan menurunkan harga pokok penjualan,” tutur Budi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Agus Wariyanto memberikan kesimpulan sekaligus penutup daripada FGD tersebut. Agus mengungkapkan perlunya membangun maindset atau pola pikir peternak agar dapat mencapai kemandirian dengan cara gotong royong, bukan lagi kapitalis maupun sosialis. Peternak kecil dan peternak besar sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain. Lebih lanjut, Agus menambahkan bahwa pemerintah kabupaten juga harus banyak belajar untuk ikut andil agar dapat sejalan sehingga dapat mendukung penuh program tersebut.

“Kita harus mengubah maindset. Jika tidak ikhlas akan sulit. Tidak ada yang ditutupi dan harus gotong royong. Masalah pasca panen diselesaikan dengan pasca panen, tidak bisa dengan budidaya. Begitu juga sebaliknya. Ingat bahwa BUMP bukan kapitalis atau sosialis namun gotong royong. Yang besar maupun kecil akan saling membutuhkan satu sama lain. Harus ada inisiatif dari peternak untuk bergerak. Pemerintah dari kabupaten juga harus belajar agar dapat nyambung. Jika hanya membentuk BUMP itu gampang, namun bukan hanya itu yang kita inginkan bersama. Kita harapkan BUMP memang benar-benar dapat menjadi solusi dari masalah peternak ayam petelur yang selama ini belum bisa teratasi dengan baik,” tutupnya.

Similar Posts