Berita

Banyumas Dorong Petani Bentuk BUMP

Banyumas – Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah mengundang beberapa petani Kabupaten Banyumas untuk ikut serta dalam agenda Focus Group Discussion atau FGD pada Selasa (5/10) yang bertempat di Aula Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyumas. Acara tersebut bersinergi dengan Sekretariat Nasional Badan Usaha Milik Petani (Seknas BUMP) Indonesia serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyumas. Turut hadir pula Staf Khusus Gubernur Jawa Tengah dalam rangka memberikan support system kepada peserta yang datang.

Petani yang diundang tergabung dalam beberapa kelompok tani berasal dari Jatilawang, Patikraja, Kebasen, dan Buntu serta fokus pada usaha tanaman pangan khususnya komoditas padi. Selama ini harga gabah selalu menjadi persoalan dimana petani menjualkan hasil produksinya ke tengkulak dengan harga yang cukup rendah. Upaya untuk menstabilkan harga sekaligus menjaga pasokan gabah Kabupaten Banyumas tentu menjadi sebab utama FGD ini diselenggarakan.

Dijelaskan dalam FGD tersebut oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Agus Wariyanto bahwa inovasi kelembagaan ekonomi petani dasarnya dari UU No.19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Dimana dasar hukum tersebut memiliki tujuan untuk memposisikan petani sebagai subjek yang sudah tidak lagi ketergantungan dengan siapapun sehingga terciptalah kemandirian petani. Agus menambahkan kelembagaan ekonomi petani berbentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP) inilah yang dimiliki oleh petani itu sendiri dan dapat mengangkat martabat petani.

“Kalau ingin mandiri, tidak cukup hanya kelompok tani saja. BUMP merupakan teori baru yang harus kita bangun. Namun yang harus selalu diperhatikan bahwa di BUMP kerja kita tidak sendiri melainkan kerja bersama dan gotong royong antar petani. Kita tetap menguatkan potensi lokal yang ada di sini, kelihatannya selain padi ada juga kapulaga yang bisa kita angkat. Selanjutnya nanti sebelum dibentuk BUMP akan dilakukan asesmen oleh Seknas BUMP Indonesia kepada para petani agar tidak hanya sekadar membentuk saja namun memiliki spirit keberlanjutan didalamnya. Tentunya pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Banyumas diharapkan untuk dapat selalu mendukung penuh upaya ini,” jelasnya.

Ketua Seknas BUMP Indonesia, Sugeng Edi Waluyo menyampaikan bahwa selama ini belum ada wadah atau program yang memiliki keberpihakan kepada petani secara tersistem baik dari pengolahan lahan, pembiayaan, penyediaan benih, penyediaan pupuk, hingga kepastian pasar dan harga. Edi menegaskan bahwa BUMP mampu mengakomodir kebutuhan petani secara kolektif sehingga ke depan petani sudah tidak lagi kebingungan dalam melakukan usaha budidaya.

“Dasar hukum yang memayungi Badan Usaha Milik Petani (BUMP) sudah cukup kuat selain daripada UU No.19 Tahun 2013 terutama di Jawa Tengah ada Perda Provinsi Jawa Tengah No.5 Tahun 2016 dan Pergub No.16 Tahun 2018. Jika dibentuk BUMP di Banyumas ini, petani sudah tidak lagi kebingungan. Karena tujuan BUMP memang jelas untuk melindungi petani. Skema gerak dari BUMP itu sendiri berupa pemberdayaan dan bisnis yang kemudian dalam menjalankan usaha pertanian secara korporasi dengan bentuk perseroan terbatas,” tegas Edi.

Staf Khusus Gubernur Jawa Tengah, Warsito Ellwein yang berkesempatan hadir mengatakan bahwa BUMP merupakan satu wadah bersama-sama secara gotong royong agar petani memiliki kekuatan dalam menghadapi persaingan pasar. Kekuatan petani tidak lain ialah modal sosial yang dimilikinya, maka diperlukannya pengoptimalan hal tersebut agar cita-cita kesejahteraan petani dapat terwujud. Warsito juga mengungkapkan selama ini petani telah diberikan bantuan dan program oleh berbagai stakeholder namun belum dapat mengakomodir petani secara holistik dikarenakan belum adanya sistem yang mewadahinya.

“BUMP satu wadah bersama-sama dari produksi hingga distribusi agar memiliki kekuatan. Caranya tidak bisa persaingan bebas secara individu, namun dengan kelompok gotong royong. Kekuatan petani tidak harus finansial namun ada di modal sosial berupa waktu, pikiran, tenaga. Selama ini stakeholder memberi bantuan ke petani tidak bersinergi satu sama lain. Adanya BUMP dapat menyinergikan semuanya. Harapan bersama ini agar petani dapat meningkatkan pendapatannya,” kata Warsito.

Similar Posts