Berita

Selangkah Lagi BUMP di Sukoharjo Terbentuk

Sukoharjo – Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah mengadakan bimbingan teknis (Bimtek) dalam rangka pengembangan cadangan pangan melalui pemantapan pembentukan Badan Usaha Milik Petani (BUMP) pada Sabtu (13/11) bertempat di Hotel Tosan, Sukoharjo. Pertemuan yang sudah terlaksana ketiga kalinya ini merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi yang kemudian menghasilkan keputusan bahwa petani Sukoharjo sepakat membentuk BUMP.

Prospek BUMP yang menjanjikan ke depan menyebabkan petani merasa memiliki harapan untuk terus berkembang dalam upaya menuju kesejahteraan. Ada total 14 kelembagaan petani tergabung dalam BUMP yang terdiri dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar). Agenda tersebut selain dihadiri oleh Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah juga dihadiri oleh Staf Khusus Gubernur Jawa Tengah, Sekretariat Nasional Badan Usaha Milik Petani (Seknas BUMP) Indonesia, dan Dinas Pangan Sukoharjo.

Dalam pembukanya Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Agus Wariyanto menyampaikan penyelesaian masalah petani secara kolektif melalui Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Pemerintah menjadi pihak yang siap memfasilitasi, mendampingi dan mendorong petani. Sukoharjo tergolong cepat dalam proses pembentukan BUMP karena pertemuan ke-3 sudah menemui kesepakatan. Pertemuan ke-4 nanti merupakan tahapan penandatanganan akta pendirian.

“Petani Indonesia harus maju. Kita semua yang disini belajar bareng kerja keras untuk petani, jangan saling menyalahkan. Semua tetap belajar, tidak ada ilmu yang tidak berkembang. Bukan mengeluh tapi memperbaiki kelompok yang sudah ada agar tidak dibubarkan. Jika nantinya ada yang mau bergabung bisa RUPS. Meskipun pupuk harganya sudah mulai naik kembali, tapi bukan menjadi sebuah kendala untuk terus berkembang,” kata Agus.

Kepala Dinas Pangan Sukoharjo, Endang Tien Waryuni memberikan dukungan penuh kepada petani yang tergabung dalam BUMP. Lebih lanjut lagi, Dinas Pangan Sukoharjo sudah berkoordinasi dengan Setda Kabupaten Sukoharjo untuk dapat mendukung langkah petani dalam membentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Endang sangat optimis agar BUMP di Kabupaten Sukoharjo dapat berkembang dengan baik serta kegiatan yang dilakukan petani dapat optimal.

“Hasil koordinasi bahwa Setda Kabupaten Sukoharjo mendukung penuh terciptanya BUMP. BUMP diberikan keleluasan untuk menyuplai beras ke ASN dengan kualitas yang lebih baik ataupun minimal standar. Setelah disepakati, dari pihak BUMP mengusulkan 30% dalam menyuplai beras, 70% dikelola Perpadi (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia). Ke depan berharap BUMP sanggup menyuplai 100% kebutuhan beras ASN. BUMP sudah berdiri barangkali dapat bermitra dengan berbagai daerah di Indonesia melalui Seknas BUMP Indonesia setelah itu dapat mandiri,” jelasnya.

Sementara itu Staf Khusus Gubernur Jawa Tengah, Warsito Ellwein mencermati sumber daya yang dimiliki petani. Warsito mendeskripsikan apabila petani bergerak secara berkelompok secara tidak langsung itu terbentuk modal sosial. Semakin besar dan kompak kelompok petaninya semakin kuat pula modal sosialnya. Modal sosial penting untuk BUMP karena petani harus kompak, guyub rukun, dan gotong royong. Untuk itu, BUMP harus berprinsip terkalkulasi, sistematis, terukur, rasional, dan berkelanjutan agar peningkatan pendapatan petani dapat terwujud. Gerakan BUMP pelan namun tidak terlalu lama, diperjuangkan agar yang mendapatkan keuntungan pertama itu petani bukan pihak lain.

“Prinsip membantu petani adalah menyelamatkan kita semua. Dengan modal sosial yang kuat memunculkan peluang yang besar untuk mengkonsolidasikan dan mensinergikan berbagai dukungan dari eksternal seperti dukungan keuangan, manajemen, pengetahuan dan ketrampilan, fasilitas dan infrastruktur yang dapat menjadi modal usaha. Petani nantinya memiliki saham dan payung usaha bersama dengan konsep holding BUMP untuk dapat saling membantu sesama BUMP terutama di Jawa Tengah layaknya keluarga Jawa yang ketika anaknya sakit orang tua membantu, namun ketika orang tua sakit tidak meminta bantuan ke anaknya,” tambah Warsito.

Dalam paparannya Ketua Seknas BUMP Indonesia, Sugeng Edi Waluyo menguraikan konsep asosiasi gapoktan beserta sekilas mengenai saham dan pembagiannya. Gapoktan yang bergabung menjadi anggota BUMP dapat dijadikan asosiasi gapoktan untuk memenuhi prinsip keberlanjutan. Rencana jangka panjang, petani memiliki saham mayoritas BUMP sehingga selain mendapatkan fasilitas penjualan dan ROI, petani juga memiliki bergaining position. Jika diawal mayoritas saham sudah dimiliki petani, nantinya pergerakan usaha tidak dapat berjalan dengan efektif dan efisien terutama persepsi eksternal yang menganggap petani tidak visibel dan bankabel.

“BUMP PT yang filosofinya petani terdiri dari tiga (3) unsur pemegang saham yaitu asosiasi, gapoktan, dan pihak ketiga. Diawal saham mayoritas dimiliki pihak ketiga yang memiliki keberpihakan kepada petani. Setelah itu dengan berkembangnya BUMP beberapa tahun nantinya terjadi dilusi kepemilikan saham menjadikan petani yang memiliki saham mayoritas. Gapoktan nantinya memiliki perusahaan bukan menjadi perusahaan karena fungsinya berbeda,” jelas Edi.

Sebagai penutup Ketua Gapoktan Margo Tirto Nugroho, Maryadi mengapresiasi dan mengucapkan banyak terima kasih atas program yang diberikan pemerintah maupun pemerintah daerah. Maryadi mengatakan bahwa manajemen menjadi kunci yang penting untuk melakukan pengembangan. Filosofi petani itu harus kompak dan bersama-sama dengan prinsip pemikiran yang revolusioner, jadi tidak bergerak sendiri secara bebas tanpa struktur yang jelas. Untuk itu, petani sangat berharap pendampingan dari pemerintah daerah dapat terus berlanjut.

“Banyak ilmu yang didapatkan, terima kasih kepada provinsi. Sudah cukup jelas sejauh ini. Filosofi petani harus kompak dan bersama-sama jangan pengin menang sendiri harus bisa berpikir revolusioner. Jadi petani jangan menyerah karena jika kita tekun dapat hasil yang lebih baik. Nilai kekompakan harus dijunjung tinggi. Gudang di setiap gapoktan dapat menjadi nilai fungsi yang tinggi karena memiliki fungsi simpan. Manajemen kunci penting untuk pengembangan,” pungkasnya.

Similar Posts